Acute respiratory distress syndrome (ARDS)
Posted on: 18 October 2016, by : Dokter Muda

Acute respiratory distress syndrome (ARDS) atau sindrom distress respirasi akut  adalah suatu kondisi mengancam nyawa, yang mana terjadi gangguan dalam pengambilan oksigen ke paru dan darah dalam jumlah yang memadai. Pada ARDS terjadi pengumpulan cairan pada alveolus sehingga oksigen sulit masuk ke dalam sirkulasi. Hal tersebut juga membuat paru menjadi kaku dan berat serta menurunnya kemampuan dalam mengembang. Infitrat pada pada paru bilateral dan hipoksemia yang terjadi harus tanpa disertai edema paru akibat masalah kardiopulmoner.

ARDS diawali oleh peningkatan permeabilitas barier antara alveoulus dan kapiler yang menyebabkan masuknya cairan ke alveoulus. Selain peningkatan permeabilitas, masuknya cairan ke alvoulus juga dapat disebabkan oleh kerusakan pada endotel vaskular atau epitel alveolus.

ARDS dapat disebabkan oleh banyak hal, tetapi akan memberikan gambaran klinis yang serupa. Penyebab ARDS dapat dibedakan menjadi penyebab cedera langsung  dan penyebab cedera tidak langsung pada paru. Penyebab langsung antara lain adalah pneumonia, aspirasi isi lambung, kontusio paru, edema paru reperfusi, emboli cairan amnion, dan cedera inhalasi. Sementara itu, penyebab tidak langsung antara lain adalah sepsis, trauma berat, cardiopulmonary bypass, overdosis obat, pankreatitis akut, tenggelam, cedera paru akut terkait transfusi/transfusion-related acute lung injury (TRALI). ARDS yang disebabkan oleh penyebab seperti trauma dan TRALI memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan yang disebabkan oleh sepsis, pneumonia dan luka bakar.

Gambara klinis ARDS sesuai definisi dari American-European Consensus Conference adalah sebagai berikut:

  • Onset akut
  • PaO2/FiO2 ≤ 200 mmHg termasuk dalam ARDS, sementara jika PaO2/FiO2 ≤ 300 mmHg termasuk dalam acute lung injury (ALI).
  • Infiltrat bilateral pada gambaran radiografi paru (foto rontgen thorax)
  • Pulmonary artery occlusion pressure ≤ 18 mmHg atau tidak adanya hipertensi atrium kiri.

Selain itu, pasien juga dapat mengalami kesulitan bernafas. Nafas menjadi pendek dan cepat. Tekanan darah menurun. Dapat terjadi pula kegagalan organ.

Pada pemeriksaan fisik, dapat didengar suara napas abnormal seperti ronki yang menandakan adanya cairan pada paru. Seringkali, kulit, bibir dan kuku menjadi sianosis akibat kurangnya oksigenasi ke jaringan.

Secara umum, penanganan ARDS bersifat suportif di ICU. Selain itu, tentunya harus diatasi penyebab ARDS itu terjadi seperti menatalaksanan infeksi, mengurangi peradangan serta membuang cairan dari paru. Masalah yang dapat terjadi akibat ARDS (maupun terkait terapi yang memang diperlukan) antara lain adalah kegagalan multiorgan, pneumothorax terkait penggunaan mesin ventilator, fibrosis paru, maupun pneumonia terkait ventilator. Sebagian besar kematian akibat ARDS terkait dengan kondisi sepsis dan kegagalan multiorgan. Mortalitas juga meningkat pada penderita yang berusia lebih tua.

Penggunaan ventilator dengan pemberian volume tidal yang rendah (6 ml/kgbb) pada pasien ALI atau ARDS menunjukan penurunan angka mortalitas dibandingkan yang menggunakan volume tidal standar (12 ml/kgbb). Hal ini kemungkinan disebabkan karena volume tidal yang rendah bersifat melindungi paru dari overdistensi pada bagian yang normal.

Ketika pasien ARDS mendapatkan ventilasi dengan volume tidak yang rendah, cenderung terjadi tekanan oksigen pada arteri yang lebih rendah dan tekanan karbon dioksida yang lebih tinggi. Pada ARDS, kondisi hiperkapnea dan hipoksemia tersebut diperkenankan. Hal tersebut dikarenakan untuk bisa menormalkan kadar oksigen dan karbondioksida dalam arteri membutuhkan penggunaan ventilasi mekanik dengan volume tidal yang lebih tinggi. Namun, penggunaan volume tidak yang tinggi tersebut justru meningkatkan mortalitas akibat adanya volutrauma. Bagian paru yang mengalami peregangan secara berlebihan akan menghasilkan sitokin-sitokin yang akan masuk dalam sirkulasi.

Referensi:

  • Campbell L, Gropper M. Basic of Anesthesia: Critical Care Medicine. United States of America: Elsevier; 2011. p. 669.
  • NLM. Acute respiratory distress syndrome. Diunduh dari https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000103.htm. Diakses 25 Juni 2016.
  • Harman EM. Acute Respiratory Distress Syndrome. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/165139-overview?src=refgatesrc1. Diakses 25 Juni 2016.
Artikel Pilihan
Efusi pleura terjadi ketika terdapat akumulasi cairan pleura secara berlebihan akibat pembentukan cairan pleura melebihi
Spirometri adalah salah satu metode sederhana yang dapat digunakan untuk mempelajari ventilasi paru, yaitu dengan
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar di dunia. Prevalensi kasus TB ini
Oksigen Adalah suatu molekul berbentuk gas dengan rumus kimia 02. Oksigen diperlukan oleh sel hidup
Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) merupakan suatu penyakit obstruksi napas yang terjadi secara kronis dan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: