Pendekatan Klinis Hiperkalsemia
Posted on: 22 October 2016, by : Dokter Muda

Artikel asli: Carroll MF, Schade DS. A practical approach to hypercalcemia. Am Fam Physician. 2003;67:1959-66

Disclaimer: Artikel ini merupakan saduran dengan bahasa yang lebih sederhana dari artikel di atas. Target pembaca artikel ilmiah populer ini adalah mahasiswa rumpun ilmu kesehatan tingkat awal. Artikel ini lebih bertujuan sebagai pendahuluan atau membuka wawasan mengenai topik di atas. Untuk informasi yang lebih lengkap pembaca disarankan mencari artikel di atas.

Hiperkalsemia merupakan kasus yang sebenarnya cukup sering ditemukan di pelayanan kesehatan primer. Artikel ini menyebutkan bahwa diduga sekitar satu dari 500 pasien yang dating ke pelayanan kesehatan primer memiliki hiperparatiroidisme yang tidak terdiagnosis.

Kalsium normalnya terdistribusi terutama di tulang (sekitar 98% kalsium tubuh), sedangkan sisanya bersirkulasi di seluruh tubuh. Sekitar setengah kalsium yang beredar berada dalam bentuk ion bebas, yang merupakan bentuk yang memiliki fungsi fisiologis. Sisanya terikat pada protein darah.

Hormon paratiroid merupakan hormon utama yang mengontrol kadar kalsium dalam darah. Mekanisme kerjanya melalui meningkatkan resorpsi tulang, meningkatkan absorpsi kalsium dari saluran cerna, dan menurunkan pembuangan kalsium dari ginjal. Semua mekanisme tersebut meningkatkan kadar kalsium dalam darah, sehingga hiperparatiroidisme menyebabkan hiperkalsemia.

Nilai normal kalsium serum yang tertera di artikel ini(dapat berbeda di masing-masing laboraturium) adalah  8-10 mg/dl(2,0-2,5 mmol/dl), sedangkan untuk ion kalsium adalah 4 – 5,6 mg/dl(1-1,4 mmol/dl). Hiperkalsemia ringan adalah kadar total kalsium darah 10,5-12 mg/dl, sedangkan nilai di atas 14 mg/dl dapat mengancam nyawa(Gambar 1).

Spektrum hiperkalsemia

Gambar 1. Spektrum hiperkalsemia.

Darimana kita curiga pasien mengalami hiperkalsemia? Tentu saja seperti penyakit lain, dari gejala dan tandanya. Lalu apa saja gejala dan tanda hiperkalsemia? Manifestasi klinis hiperkalsemia sangat beragam, karena kalsium turut memengaruhi potensial membrane di seluruh tubuh. Secara umum hiperkalsemia menyebabkan hiperpolarisasi membrane sel. Oleh sebab itu efeknya terutama pada sel yang dapat dieksitasi (otot dan saraf). Manifestasi klinis hiperkalsemia dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Manifestasi Klinis Hiperkalsemia

Manifestasi Klinis Hiperkalsemia

Lalu apa saja yang dapat menyebabkan hiperkalsemia? Diagnosis bandingnya sangat banyak. Akan tetapi artikel ini menyebutkan bahwa sekitar 90 persen hiperkalsemia disebabkan oleh hiperparatiroidisme primer dan keganasan. Daftar penyebab hiperkalsemia dapat dilihat pada tabel 2.

Untuk mempermudah mengetahui etiologi hiperkalsemia pada pasien, artikel ini memberikan suatu pedoman pendekatan klinis hiperkalsemia (Gambar 2)

Lalu apa yang akan kita lakukan pada pasien?Logikanya diturunkan bukan? Akan tetapi artikel ini menunjukkan bahwa tidak terdapat keuntungan menurunkan kadar kalsium darah pada pasien hiperkalsemia asimtomatik dengan kadar kalsium serum kurang dari 12 mg/dl. Penurunan kadar kalsium secara aktif dianjurkan pada pasien dengan kadar kalsium serum lebih dari 14 mg/dl atau lebih dari 12 mg/dl dengan gejala.

Pilihan utama terapi agresif hiperkalsemia adalah rehidrasi dan diuretic. Pilihan selanjutnya dengan obat penurun kadar kalsium. Terapi lainnya adalah dialysis, yang digunakan bila hiperkalsemia mengancam jiwa. Pembedahan dapat dilakukan pada pasien krisis hiperkalsemia akibat hiperparatiroidisme primer.

Tabel 2. Penyebab hiperkalsemia.

Penyebab hiperkalsemia

Algoritma pasien yang dicurigai mengalami hiperkalsemia

Gambar 2. Algoritma pasien yang dicurigai mengalami hiperkalsemia.

Tabel 3. Pilihan terapi farmakologik hiperkalsemia.

Artikel Pilihan
Nyeri kepala merupakan keluhan yang sering dikeluhkan oleh pasien. Salah satu keluhan tersebut adalah “nyeri
Retardasi mental diartikan sebagai suatu kondisi berhentinya atau tidak lengkapnya perkembangan mental. Khas ditandai dengan
Dalam ilmu psikiatri, mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism) merupakan salah satu bentuk penyesuaian diri untuk
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pengelompokkan gejala klinik yang teramati, diagnosis diskriptif (dengan mengabaikan berbagai latar belakang
Keadaan Umum Isi: jenis kelamin, usia, rawat diri Penting untuk menentukan/memperkirakan prognosis pasien Contoh: tampak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: