Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) merupakan suatu penyakit obstruksi napas yang terjadi secara kronis dan progresif. Suatu obstruksi saluran napas dapat ditandai dengan adanya penurunan rasio dari volume ekspirasi paksa 1 detik (VEP1) dibandingkan dengan kapasitas vital paksa (KVP). Obstruksi saluran napas ditandai dengan nilai VEP1/KVP yang <70%. Juga, dipertimbangkan nilai VEP1 yang <80% nilai prediksi (dibandingkan dengan suatu standar kebanyakan orang, yang mana nilai VEP1 ini tergantung pada usia, jenis kelamin, dan tinggi badan).

Selain ditandai dengan penurunan fungsi paru yang bersifat obstruktif, penderita PPOK juga seringkali memiliki gejala batuk kronik.

Pneumonia Komunitas

Pada tahun 2001, di Indonesia penyakit infeksi saluran napas bawah menempati urutan kedua penyebab kematian. Sementara itu, pneumonia sebagai salah satu penyakit infeksi tersebut menjadi penyebab kematian ke-6 di Indonesia. Pneumonia itu sendiri didefinisikan sebagai suatu peradangan oaru yang disebabkan oleh mikroorganisme kecuali M.tuberculosis. Mikroorganisme tersebut termasuk virus, jamur dan parasit meskipun jamur dapat diklasifikasikan tersendiri sebagai kasus mikosis paru. Sementara jika peradangan tidak disebabkan oleh mikroorganisme, kondisi tersebut disebut sebagai pneumonitis.

Pneumonia

“Paru-paru merupakan organ yang rentan dengan infeksi mengingat saluran nafas serta epitel paru terus-menerus terpajan udara yang mungkin saja tercemar.”
Meskipun begitu, terdapat bermacam mekanisme pertahanan baik imun maupun nonimun yang berada dari nasofaring hingga rongga udara di alveolus untuk menghadapi serangan infeksi.

Defek pada imunitas bawaan serta imunodefisiensi humoral biasanya menyebabkan peningkatan insiden infeksi oleh bakteri piogenik. Selain itu, defek imunitas seluler menyebabkan peningkatan infeksi oleh mikroba intrasel, seperti mikobakteri dan virus herpes serta mikroorganisme yang virulensinya rendah, seperti Pneumocytis carinii.

Penyebab Sesak Nafas

Sesak napas merupakan suatu sensasi kesulitan bernapas atau ketidaknyamanan bernapas. Sesak napas adalah persepsi subjektif dari seorang pasien, dan biasanya berbeda pada setiap orang.

Beberapa penyebab sesak yaitu:1

Penyakit PPOK (COPD)

Penyakit ini terdiri atas emfisema dan bronkitis kronik, dan biasanya diderita oleh pasien dengan riwayat merokok sejak lama dan memiliki dispnea sejak beberapa tahun terakhir. Abnormalitas paru muncul sebelum terjadinya dispnea. Penyakit ini dapat disertai batuk dan sputumnya dapat menjadi purulen selama masa eksaserbasi.

Asma

Pasien dengan penyakit ini biasanya memiliki riwayat keluarga yang juga memiliki asma.

Patogenesis Tuberkulosis

Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyebar dari satu orang ke orang lain melalui udara. Selain mempengaruhi paru (80%), TB juga dapat mempengaruhi organ lain seperti otak, ginjal atau spinal (tuberkulosis ekstrapulmonar: 20%). 1,2Dua pertiga dari populasi dunia mengalami infeksi TB. Akan tetapi, secara umum, hanya 5-10% orang yang terinfeksi akan mengalami penyakit TB aktif. Setengah dari orang tersebut dapat mengalami TB aktif pada dua tahun petama sejak infeksi. Jika imunitas rendah, resikonya akan meningkat.

Patofisiologi Sesak Nafas

Patofisiologi

Kemoreseptor1

Perubahan pH, pCO2, dan pO2 darah arteri dapat dideteksi oleh kemoreseptor sentral dan perifer. Stimulasi reseptor ini mengakibatkan peningkatan aktivitas motorik respirasi. Aktivitas motorik respirasi ini dapat menyebabkan hiperkapnia dan hipoksia, sehingga memicu terjadinya dispnea. Menurut studi, terdapat pula peran serta kemoreseptor karotid yang langsung memberikan impuls ke korteks serebri, meskipun hal ini belum dibuktikan secara luas.

Hiperkapnia akut yang terjadi pada seseorang sesungguhnya lebih dikaitkan terhadap ketidaknormalan keluaran saraf motorik dibanding aktivitas otot respiratorik. Hal ini disebabkan gejala umum hiperapnia akut berupa urgensi untuk bernapas yang sangat menonjol.

Imunopatologi Tuberculosis

Awal infeksi
Transmisi M.tuberkulosis dilakukan melalui droplet udara yang kemudian dihirup oleh orang sehat. Sebagian besar bakteri terbuang oleh silia dari epitel respiratorius, namun terdapat beberapa kuman yang masuk ke dalam alveolus.1 Infeksi TB terjadi bila jumlah bakteri mencapai 5 basil.2 Kuman yang masuk ini kemudian difagositosis oleh makrofag yang belum teraktivasi secara spesifik. Fagositosis ini terjadi melalui interaksi dengan molekul permukaan makrofag, seperti reseptor komplemen, reseptor mannosa, reseptor igGFc, dan reseptor type A scavenger. Setelah fagositosis terjadi dan terbentuk fagosom, dinding bakteri menghasilkan LAM (glikolipid lipoarabinomannan) yang menghambat ion Ca2+ intrasel.

Etiologi Tuberculosis

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit granulamatosa kronis menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.   Tidak hanya mengenai paru, penyakit ini juga dapat mengenai organ lain.  Penularan langsung terjadi melalui inhalasi mikroaerosol ekspektorasi (droplet) atau pajanan ke sekresi pasien TB.  Selain M. tuberculosis, M.bovis  juga menyebabkan TB orofaring dan usus yang berjangkit melalui susu sapi perah yang mengidap tuberkulosis. Sedangkan M.avium-intracellulare merupakan strain yang sering ditemukan pada pasien AIDS, mengenai 10 hingga 30% pasien.  Penularan strain ini melalui tanah, air, unggas, babi, dan hewan ternak.

Faringitis dan Laringitis

Faringitis
Faringitis adalah penyakit tenggorokan, merupakan respon inflamasi terhadap patogen yang mengeluarkan toksin. Faringitis juga bisa merupakan gejala dari penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti penyakit flu.1

Etiologi2

Beberapa penyebab dari faringitis yaitu:

Virus

Virus merupakan etiologi terbanyak dari faringitis.

Dinamika Pernapasan dan Sirkulasi Paru

Resistensi Jalur Pernapasan

Aliran udara pada paru tidak hanya bergantung pada gradien tekanan, namun juga resistensi jalur pernapasan yang ditimbulkan, sesuai dengan rumus F = P/R. (F adalah laju aliran udara, delta P adalah perbedaan antara tekanan atmosfer dan udara alveolus, dan R adalah resistensi saluran pernapasan yang ditentukan oleh jari-jari).

Penentu utama resistensi terhadap aliran udara adalah jari-jari saluran pernapasan. Pada sistem pernapasan yang sehat, jari-jari saluran pernapasan cukup besar, sehingga resistensinya rendah. Dengan demikian, normalnya, gradien tekanan merupakan faktor utama yang menentukan kecepatan aliran udara.