Klasifikasi Gangguan Jiwa

Kriteria gangguan jiwa adalah suatu kelompok gejala atau perilaku yang secara klinis bermakna dan disertai penderitaan (distress) pada kebanyakan kasus dan berkaitan dengan terganggunya fungsi (disfungsi/hendaya) seseorang. Jika hanya terjadi penyimpangan atau konflik sosial tanpa disfungsi, tidak dimasukan dalam kriteria gangguan jiwa. Perlu diperhatikan bahwa sesuatu yang berbeda tidaklah berarti selalu lebih buruk atau lebih baik.

Jaras Somatosensoris dan Patofisiologi Gangguannya

Reseptor

Informasi mengenai lingkungan internal dan eksternal dapat mengaktivasi sistem saraf pusat melalui bermacam reseptor sensoris. Reseptor sensoris dapat berupa ujung dendrit yang terspesialisasi dari serat saraf afferen atau berkaitan dengan sel nonneural yang mengelilinginya membentuk suatu organ perasa. Sentuhan dan tekanan diterima oleh empat mekanoreseptor.

Sel merkel: ujung dendrit yang meluas dan berespon terhadap tekanan yang diperpanjang dan sentuhan.
Korpus Meissner: dendrit yang terkapsulasi pada jaringan ikat dan berespon terhadap perubahan tekstur dan getaran yang halus.
Korpus Ruffini: ujung dendrit yang membesar dengan kapsul yang memanjang.

Infeksi Bakteri dan Jamur pada Sistem Syaraf

A.    Infeksi Bakteri

Jenis Penyakit akibat Infeksi Bakteri

Bakteri dapat menginfeksi berbagai struktur yang terdapat di sistem saraf pusat. Untuk mencapai otak dan struktur sekitarnya, mikroorganisme menggunakan cara berikut1,2:

–          hematogen, jalur ini paling sering. Biasanya melalui arteri, tetapi penyebaran lewat vena juga dapat terjadi, khususnya vena dari wajah.

Hipofisis: The Master Gland

Kelenjar pituitari adalah nama lain dari hipofisis yang merupakan master kelenjar endokrin karena mensekresikan hormon-hormon yang mengontrol kelenjar endokrin lainnya. Kelenjar pituitari itu sendiri juga memiliki master yaitu hipotalamus. Hipotalamus merupakan penghubung utama antara saraf dengan kelenjar endokrin. 1,2

Kelenjar yang menempel pada infundibulum ini secara anatomis dan fungsional dibedakan menjadi anterior pituitary (adenohipofisis) dan posterior pituitary (neurohipofisis).

a. Anterior Pituitary

Pelepasan hormon dari anterior pituitary distimulasi oleh releasing hormon dan dihambat oleh inhibiting hormon dari hipotalamus.

Gerak Refleks

Secara umum, refleks dapat diartikan sebagai respon yang terjadi secara otomatis, tanpa kesadaran. Refleks saraf selalu dimulai dengan adanya stimulus yang mengaktifkan reseptor sensoris. Kunci dari jaras refleks adalah negative feedback. Jalur yang terlibat dalam terjadinya refleks dikenal sebagai lengkung refleks. Tidak seperti gerak biasa yang memiliki banyak variasi respon, respon untuk gerak refleks dapat diprediksikan karena jalurnya selalu sama.

Neural refleks bisa diklasifikasikansebagai berikut :

1.Berdasarkan divisi efferent sistem saraf yang mengontrol respon

Refleks ini melibatkan somatic motor neuron dan otot skeletal yang dikenal sebagai refleks somatik.

Gangguan Vestibuler Tipe Perifer

Migrain Vestibular
Migrain vestibular merupakan kelainan di mana terdapat migrain yang menyebabkan vertigo. Kelainan ini merupakan salah satu kelainan terbanyak yang menyebabkan vertigo spontan yang bersifat episodik. Migrain vestibular lebih banyak terdapat pada wanita dibandingkan pria, dengan perbandingan 1,5-5 : 1. Usia terbanyak yang sering terkena migrain yaitu usia 20-40 tahun. Biasanya, migrain muncul lebih dulu sebelum adanya vertigo. Pada beberapa penelitian, diketahui bahwa individu yang memiliki migrain lebih berisiko terkena vertigo.1
Patofisiologi
Patofisiologi dari migrain vestibular masih belum diketahui. Terdapat hipotesis bahwa migrain tersebut terjadi akibat adanya gangguan pada sistem vaskular dan perubahan pada aktivitas saraf.

Gangguan Neuromuskular Junction dan Gaya Berjalan (Gait)

A. Gangguan Neuromuscular Junction
1. Myasthenia Gravis
Myasthenia Gravis merupakan penyakit autoimun pada neuromuscular junction. Pada penyakit ini terjadi autoantibody terhadap reseptor asetilkolin(AChR), baik di otot maupun yang bersirkulasi. Prevalensinya sekitar 30 setiap 100000 orang dan hampir sama antar jenis kelamin.1

Patogenesis utama pada penyakit ini adalah karena adanya autoantibody terhadap AChR di neuromuscular junction melalui cara berikut1:

–  mengikat komplemen dan menyebabkan kerusakan membrane postsinaps
–  meningkatkan internalisasi dan degradasi reseptor
–  menghambat pengikatan asetilkolin

Gejala klinis yang utama adalah kelemahan otot, yang biasanya dimulai dari otot ekstraokuler.

Fisiologi Penghidu dan Pengecapan

Penghidu dan pengecap merupakan aktivitas yang membutuhkan molekul kimia sebagai rangsangannya karena sel saraf kedua pengindera tersebut merupakan kemoreseptor, yang berbeda dengan sifat sel saraf pada penglihatan dan pendengaran.1Penghidu dan pengecap merupakan kedua indera yang saling berkaitan, terutama dalam hal merasa makanan. Selain itu, kedua indera tersebut juga berkaitan dengan fungsi gastrointestinal dalam mengubah nafsu makan, sehingga disebut indera viseral. Walaupun fungsinya berkaitan, secara anatomi dan neurologi, penghidu dan pengecapan berbeda.2
Fisiologi penghidu
Eksitasi pada sel olfaktori
Reseptor penghidu terletak pada superior nostril, yaitu pada septum superior pada struktur yang disebut membran olfaktori.

Penyalahgunaan Obat dan Mekanisme Ketergantungan

Dalam memilih obat yang tepat dan dosis yang digunakan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan yang dapat membedakan respon sesorang pada sebuah obat. Salah satunya adalah pengulangan dosis.

Variasi respon pada pengulangan dosis dapat berupa :

Efek kumulatif : peningkatan repon secara progresif yang terjadi saat kecepatan administrasi obat lebih dari kecepatan eliminasi.
Toleransi : pengurangan respon pada obat karena penggunaan berulang. Mekanisme ini dipengaruhi oleh peningkatan biotransformasi dan adaptasi reseptor. Proses ini dapat dikarakteristikan sebagai receptor downregulation (pengurangan jumlah atau afinitas reseptor) atau reseptor upregulation (peningkatan jumlah atau afinitas reseptor.

Anatomi dan Fisiologi Kemampuan Bicara

A.    Pendahuluan
Berbahasa adalah cara manusia berkomunikasi antar sesama. Berbahasa meliputi membaca, menulis, dan berbicara. Untuk dapat berkomunikasi manusia terlebih dahulu harus mengerti suatu bahasa. Setelah itu baru ia dapat memproduksi bahasa.

B.     Kemampuan pemahaman bahasa

Manusia memahami suatu kata dari pengalamannya atau imanjinasinya. 1 Manusia mendapatkan kosakata dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan sebagainya. 1 Area cerebrum yang mengitegrasikan semua stimulus ini menjadi kemampuan berbahasa adalah area Wernicke. Area Wernicke terletak pada ujung posterosuperior girus temporalis superior. Area Wernick berdekatan dengan area pendengaran primer dan sekunder.