Pernapasan Buatan

Pernapasan buatan dilakukan bila penolong mendapati korban dengan henti napas, pernapasan terlalu lambat atau terlalu cepat, atau bila pernapasan korban terlalu dangkal. Pernapasan buatan dinilai cukup bila dada kiri dan kanan bergerak naik turun bersamaan, terasa dan terdengar aliran udara keluar saat korban ekspirasi.

• Pernapasan buatan mulut-mulut
Pernapasan buatan langsung mulut ke mulut sangatlah beresiko. Kemungkinan kontak dengan cairan tubuh korban termasuk muntahan sangat besar. Untuk melakukan pernapasan buatan mulut ke mulut gunakanlah alat pelindung barrier device, face shield.

Penatalaksanaan Pasien Pingsan (Sinkop)

Pingsan atau disebut juga sinkop ialah kehilangan kesadaran sesaat karena aliran darah ke otak untuk sementara berkurang. Berbeda dengan shock, denyut nadi menjadi lebih lambat, meskipun akan segera meningkat kembali. Biasanya pasien bisa segera pulih. 1

Dalam menangani pasien yang mengalami sinkop, kita harus bisa memastikan faktor pencetus atau penyebab sehingga penanganan yang dilakukan bisa sesuai. Penyebab pingsan yang patut kita perhatikan di antaranya adalah gangguan tonus vaskular atau volume darah, gangguan kardiovaskular, penyakit serebrovaskular, serta kelainan lain seperti gangguan metabolik, psikogenik dan kejang. 2 Sinkop yang disebabkan oleh kelainan jantung beresiko menyebabkan kematian.

Pendekatan Klinis Hiperkalsemia

Artikel asli: Carroll MF, Schade DS. A practical approach to hypercalcemia. Am Fam Physician. 2003;67:1959-66

Disclaimer: Artikel ini merupakan saduran dengan bahasa yang lebih sederhana dari artikel di atas. Target pembaca artikel ilmiah populer ini adalah mahasiswa rumpun ilmu kesehatan tingkat awal. Artikel ini lebih bertujuan sebagai pendahuluan atau membuka wawasan mengenai topik di atas. Untuk informasi yang lebih lengkap pembaca disarankan mencari artikel di atas.

Hiperkalsemia merupakan kasus yang sebenarnya cukup sering ditemukan di pelayanan kesehatan primer.

Penanganan Kegawatdaruratan Kejang (Status Epileptikus)

Kejang atau seizure adalah kondisi aktivitas elektrik tak terkontrol pada otak yang dapat menghasilkan konvulsi fisik, gejala fisik minor, gangguan pemikiran, atau kombinasi dari bermacam gejala. Gejalanya dapat bermacam-macam tergantung di mana aktivitas abnormal terjadi pada otak, penyebabnya, serta faktor-faktor seperti usia pasien dan kondisi medis secara umum.

Sementara itu, epilepsi adala keadaan yang ditandai oleh bangkitan epilepsi berulang berselang lebih dari 24 jam yang timbul tanpa provokasi.

Penanganan Kegawatdaruratan Jantung: Bradikardia

Bradikardi merupakan kondisi saat denyut jantung kurang dari 60 kali permenit. Orang normal pada umumnya memiliki kecepatan denyut jantung antara 60-100 kali permenit. Namun, pada orang-orang yang jantungnya terlatih, seperti atlet, denyut jantungnya dapat kurang dari 60 kali permenit. Jika jantung kurang terlatih seperti pada mereka yang jarang berolahraga atau beraktifitas fisik, denyut jantung cenderung lebih cepat.

Penanganan Kegawatdaruratan Korban Tenggelam

Tenggelam didefinisikan oleh ILCOR (International Liaison Committee on Resuscitation) sebagai proses yang menyebabkan gangguan pernapasan primer akibat submersi/imersi pada media cair. Submersi merupakan keadaan di mana seluruh tubuh, termasuk sistem pernapasan, berada dalam air atau cairan. Sedangkan, imersi berarti keadaan di mana terdapat air/cairan pada sistem konduksi pernapasan yang menghambat udara masuk. Akibat dua keadaan ini, pernapasan korban terhenti, dan banyak air yang tertelan. Setelah itu, terjadi laringospasme. Henti napas atau laringospasme yang berlanjut dapat menyebabkan hipoksia dan hiperkapnia.

Penanganan Kegawatdaruratan Jantung: Takikardia

Takikardi atau takiaritmia adalah keadaan denyut jantung lebih dari 100 kali permenit. Takikardi dapat merupakan suatu mekanisme kompensasi terhadap kondisi lain yang sedang terjadi dalam tubuh seperti demam, anemia, syok dan sebagainya. Pada kondisi tersebut, yang perlu kita tangani adalah faktor pencetusnya. Dengan sendirinya, denyut jantung akan berkurang menuju kecepatan normal. Namun, pada kejadian takikardi dengan denyut jantung ≥150 kali permenit, maka kemungkinan besar kondisi takikardi tersebutlah yang menyebabkan tanda dan gejala lain pada pasien. Pada keadaan ini, takikardi memiliki potensi bahaya serta perlu kita tangani segera.

Obat Anti Aritmia

Terapi aritmia yang optimal, memerlukan pemahaman yang baik tentang farmakokinetik obat aritmia dan pengaruh penyakit terhadap obat tersebut, serta efeksamping dan interaksi obat juga perlu diperhatikan.

Nyeri Dada pada Sindrom Koroner Akut

Nyeri dikatakan sebagai suatu sensasi yang tidak menyenangkan dan melibatkan pengalaman emosional akibat adanya stimuli yang mungkin atau sudah menyebabkan kerusakan jaringan (keadaan iskemia). Nyeri akan diterima oleh nociceptor lalu dihantarkan melalui dua jenis serat aferen yang A delta yang cepat karena bermielin dan C yang tidak bermielin. Dari perbedaan serat saraf itu, nyeri dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu nyeri cepat dan lambat.1,2

Nociceptor ada empat jenis yaitu mekanik, termal, kimia, dan polimodal. Nociceptor mekanis peka terhadap tekanan yang kuat. Nociceptor suhu teraktivasi jika temperatur di bawah 45 derajat atau di atas 80 derajat.

Mengidentifikasi Sesak Nafas Akibat Gangguan Kardiovaskular

Dyspnea mengacu pada sensasi sulit bernapas atau tidak nyaman dalam bernafas. Hal tersebut merupakan pengalaman subyektif yang dirasakan dan dilaporkan oleh pasien yang terkena. Dyspnea harus dibedakan dari takipnea, hiperventilasi, dan hiperpnea, yang merujuk pada variasi pernapasan terlepas dari sensasi subyektif pasien. Takipnea adalah peningkatan laju pernafasan di atas normal; hiperventilasi merupakan peningkatan ventilasi relatif terhadap kebutuhan metabolisme, dan hiperpnea adalah peningkatan yang tidak seimbang dalam ventilasi relatif terhadap peningkatan tingkat metabolisme. Kondisi ini mungkin tidak selalu berkaitan dengan dyspnea. 1
Dua jenis yang tidak umum dari sesak napas yang trepopnea dan platypnea.