Sindrom Koroner Akut

Pendekatan Klinis Nyeri Dada

Nyeri dada dapat disebabkan oleh gangguan bermacam organ seperti jantung, paru, pembuluh darah hingga organ pencernaan. Infark miokard menjadi diagnosis utama pasien yang datang ke rumah sakit karena nyeri dada. Selain infark miokard, kelainan pada saluran cerna seperti refluks gastroesofagus, kelainan motilitas esofagus, ulkus peptikus dan batu empedu rupanya menjadi diagnosis utama pasien nyeri dada yang datang ke rumah sakit.

Skor TIMI Pada Stemi dan Non Stemi

Pada saat melakukan diagnosis kasus sindrom koroneri akut, prognosis pasien juga perlu dipertimbangkan. Saat ini, salah satu sistem skoring yang sering digunakan adalah TIMI Score (Thrombolysis in Myocardial Infarction (TIMI). Skor TIMI berbeda antara kasus STEMI (ST-elevation myocardial infarction) dengan kasus NSTEMI (non ST-elevation myocardial infarction).

Pada kasus N-STEMI, sebelumnya kita perlu perhatikan tanda dan gejala berupa: nyeri dada iskemi pada saat istirahat dalam 24 jam terakhir, dengan disertai bukti penyakit jantung koroner (dapat berupa deviasi segmen ST atau peningkatan penanda enzim jantung).

Sianosis Kardiovaskular

Sianosis adalah suatu keadaan di mana kulit dan membran mukosa berwarna kebiruan akibat penumpukan deoksihemoglobin pada pembuluh darah kecil pada area tersebut. Sianosis biasanya paling terlihat pada bibir, kuku, dan telinga. Derajat sianosis ditentukan dari warna dan ketebalan kulit yang terlibat. Sebenarnya, penilaian akurat dari derajat sianosis ini sulit ditentukan, karena tingkat penurunan saturasi oksigen yang dapat berakibat sianosis berbeda pada tiap ras.

Penyakit Katup Jantung: Insufisiensi Katup

Regurgitasi katup mitral (mitral regurgitation/MR)
Regurgitasi katup mital merupakan akibat dari abnormalitas struktur annulus mitral, katup, korda tendinea, atau otot papilaris. Beberapa penyebab dari MR ini yaitu:

Degenerasi myxomatosa, dapat menyebabkan pembesaran katup sehingga katup menggelembung ke dalam atrium kiri selama fase sistolik
Demam rheumatic, menyebabkan pemendekan korda tendinea dan retraksi katup
Kardiomyopati hipertrofi obstruktif, dapat mencegah penutupan katup secara normal
Kalsifikasi annulus mitral, dapat terjadi karena penuaan namun lebih umum ditemukan pada individu yang memiliki hipertensi, diabetes, atau penyakit ginjal stadium akhir.

Penyakit Arteri Perifer atau Peripheral Artery Disease (PAD)

Penyakit arteri perifer atau peripheral artery disease (PAD) merupakan suatu kondisi adanya lesi yang menyebabkan aliran darah dalam arteri yang mensuplai darah ke ekstremitas menjadi terbatas. Arteri yang paling sering terlibat adalah femoris dan popliteal pada ekstremitas bawah dan brakiosefalika atau subklavia pada ekstremitas bawah. Stenosis arteri atau sumbatan karena aterosklerosis, tromboembolism dan vaskulitis dapat menjadi penyebab PAD. Aterosklerosis menjadi penyebab paling banyak dengan kejadiannya mencapai 4% populasi usia di atas 40 tahun, bahkan 15-20% pada usia lebih dari 70.

Pendekatan Klinis Hiperkalsemia

Artikel asli: Carroll MF, Schade DS. A practical approach to hypercalcemia. Am Fam Physician. 2003;67:1959-66

Disclaimer: Artikel ini merupakan saduran dengan bahasa yang lebih sederhana dari artikel di atas. Target pembaca artikel ilmiah populer ini adalah mahasiswa rumpun ilmu kesehatan tingkat awal. Artikel ini lebih bertujuan sebagai pendahuluan atau membuka wawasan mengenai topik di atas. Untuk informasi yang lebih lengkap pembaca disarankan mencari artikel di atas.

Hiperkalsemia merupakan kasus yang sebenarnya cukup sering ditemukan di pelayanan kesehatan primer.

Penatalaksanaan Penyakit Jantung Bawaan

Dampak penyakit jantung bawaan terhadap angka kematian bayi dan anak cukup tinggi sehingga dibutuhkan tata laksana PJB yang cepat, tepat dan spesifik. Sebelum era intervensi non-bedah berkembang, semua jenis PJB ditata laksana dengan tindakan bedah/operasi. Dengan berkembangnya teknologi melalui teknik kateterisasi dan intervensi, sebagian dari PJB dapat ditata laksana tanpa operasi. Kelebihan tindakan intervensi non-bedah dibandingkan dengan bedah adalah pasien terbebas dari komplikasi operasi, penggunaan mesin jantung-paru, waktu penyembuhan lebih cepat, lamanya masa perawatan di rumah sakit menjadi singkat, dan tidak ada jaringan parut bekas operasi di dada.

Penanganan Kegawatdaruratan Jantung: Bradikardia

Bradikardi merupakan kondisi saat denyut jantung kurang dari 60 kali permenit. Orang normal pada umumnya memiliki kecepatan denyut jantung antara 60-100 kali permenit. Namun, pada orang-orang yang jantungnya terlatih, seperti atlet, denyut jantungnya dapat kurang dari 60 kali permenit. Jika jantung kurang terlatih seperti pada mereka yang jarang berolahraga atau beraktifitas fisik, denyut jantung cenderung lebih cepat.

Penanganan Kegawatdaruratan Jantung: Takikardia

Takikardi atau takiaritmia adalah keadaan denyut jantung lebih dari 100 kali permenit. Takikardi dapat merupakan suatu mekanisme kompensasi terhadap kondisi lain yang sedang terjadi dalam tubuh seperti demam, anemia, syok dan sebagainya. Pada kondisi tersebut, yang perlu kita tangani adalah faktor pencetusnya. Dengan sendirinya, denyut jantung akan berkurang menuju kecepatan normal. Namun, pada kejadian takikardi dengan denyut jantung ≥150 kali permenit, maka kemungkinan besar kondisi takikardi tersebutlah yang menyebabkan tanda dan gejala lain pada pasien. Pada keadaan ini, takikardi memiliki potensi bahaya serta perlu kita tangani segera.

Obat Anti Hipertensi

Pengobatan hipertensi biasanya ditujukan untuk mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas akibat tekanan darah tinggi. Terapi farmakologi untuk hipertensi ringan dan sedang dilakukan secara monoterapi dengan salah satu dari obat berikut : diuretik, β-bloker, penghambat ACE, antagonis kalsium, dan α-bloker (termasuk α,β-bloker). Antihipertensi lainnya, yakni vasodilator langsung, adrenolitik sentral (α2 agonis) dan penghambat saraf adrenergik, tidak digunakan untuk monoterapi tahap pertama, tetapi hanya antihipertensi tambahan.