Pemeriksaan Autoantibodi pada Sistemik Lupus Eritematosus

Pemeriksaan penunjang pada kasus sistemik lupus eritematosus (SLE) diperlukan baik untuk menegakan diagnosis, mengidentifikasi adanya peningkatan risiko komplikasi akibat SLE, evaluasi pengobatan dan efek samping, identifikasi kejadian flare atau kekambuhan maupun mengetahui adanya kerusakan atau keterlibatan organ pada SLE.

Tes autoantibodi merupakan pemeriksaan utama yang diperlukan dalam penanganan kasus SLE. Pemeriksaan antinuclear antibody atau ANA menjadi pilihan pertama untuk melakukan skrinning diagnosis SLE karena ANA positif terjadi pada >95% pasien SLE. ANA positif sebagian besar dapat ditemukan sejak onset gejala. Oleh karena itu, pemeriksaan ANA sangat penting untuk menegakan diagnosis SLE sedini mungkin.

Hipertermia Maligna

Hipertermia maligna dikenal sebagai suatu kondisi yang terjadi setelah pembiusan pada saat operasi yang ditandai dengan peningkatan suhu secara ekstrem. Namun, sebenarnya hipertermia maligna merupakan kondisi terjadinya hiperkontraktur otot yang tanda awalnya berupa kekakuan atau rigiditas otot. Peningkatan suhu justru merupakan tanda yang muncul di akhir. Selain itu, kondisi tersebut tidaklah khas akibat pembiusan semata […]

Prinsip Evaluasi dan Diagnosis Efusi Pleura

Efusi pleura terjadi ketika terdapat akumulasi cairan pleura secara berlebihan akibat pembentukan cairan pleura melebihi penyerapannya baik karena pembentukan yang terjadi secara berlebihan maupun karena adanya gangguan pembuangan cairan pleura. Cairan pleura masuk ke rongga pleura dari kapiler pada pleura parietal dan dibuang melalui saluran limfa di pleura parietal. Selain itu, cairan pleura juga dapat […]

Faktor Risiko Kanker Payudara

Kanker payudara (ca mamae) merupakan tumor ganas yang menyerang jaringan payudara. Sel dan jaringan payudara menjadi berubah bentuk dan tumbuh secara tidak terkendali. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang angka kematiannya tinggi. Survival rate 5 tahun kanker payudara bervariasi sesuai stadium kanker, mulai dari 100% pada stadium 0 dan 1 hingga mencapai 22% pada kanker payudara yang sudah metastasis (stadium 4). Komplikasi dan pengobatan kanker dapat menimbulkan gangguan kualitas hidup, produktifitas serta beban biaya yang besar.

Penatalaksanaan Gastroesophageal Reflux Disease

ABSTRAK
Penyakit refluks gastroesofageal (gastroesophageal reflux disease, GERD) kurang umum dijumpai dan derajat keparahan endoskopiknya lebih ringan di Asia dibandingkan di negara-negara Barat. Namun, data saat ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan frekuensi penyakit tersebut di Asia. Pemeriksaan baku emas untuk diagnosis GERD erosif adalah endoskopi saluran cerna atas. Sementara itu, tidak terdapat pemeriksaan baku emas untuk diagnosis penyakit refluks nonerosif (non-erosive reflux disease, NERD) dan diagnosisnya mengandalkan gejala atau respons terhadap pengobatan proton pump inhibitor (PPI). Sasaran pengobatan GERD adalah menyembuhkan esofagitis, memperingan gejala, mempertahankan pasien tetap bebas gejala, memperbaiki kualitas hidup, dan mencegah komplikasi.

Trauma Thorax

Trauma Thorax

Secara keseluruhan angka mortalitas trauma thorax adalah 10 %, dimana trauma thorax menyebabkan satu dari empat kematian karena trauma yang terjadi di Amerika Utara. Banyak penderita meninggal setelah sampai di rumah sakit dan banyak kematian ini seharusnya dapat dicegah dengan meningkatkan kemampuan diagnostik dan terapi. Kurang dari 10 % dari trauma tumpul thorax dan hanya 15 – 30 % dari trauma tembus thorax yang membutuhkan tindakan torakotomi. Mayoritas kasus trauma thorax dapat diatasi dengan tindakan teknik prosedur yang akan diperoleh oleh dokter yang mengikuti suatu kursus penyelamatan kasus trauma thorax.

II.

Fraktur Patologis

Fraktur Patologis

Fraktur patologis adalah fraktur akibat lemahnya struktur tulang oleh proses patologik, seperti neoplasia, osteomalasia, osteomielitis, dan penyakit lainnya. Disebut juga secondary fracture dan spontaneous fracture.

Tulang bukan saja merupakan kerangka penguat tubuh, akan tetapi tulang juga merupakan bagian untuk susunan sendi dan di samping itu pada tulang melekat origo dan insertio dari otot-otot. Dengan demikian maka tulang dan kerangka merupakan segi yang sangat penting di dalam bidang orthopaedie. Banyak sekali penyakit-penyakit salah bentuk atau salah gerak yang disebabkan karena adanya kelainan-kelainan pada tulang. Pengetahuan yang jelas tentang kerangka dan tulang merupakan dasar yang kuat di dalam ilmu orthopaedie.

Diagnosis Multiaksial Dalam Psikiatrik

Diagnosis Multiaksial Dalam Psikiatrik

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pengelompokkan gejala klinik yang teramati, diagnosis diskriptif (dengan mengabaikan berbagai latar belakang teori yang menjelaskan mengapa gejala tersebut muncul.

1.

Pemeriksaan Psikiatrik

Keadaan Umum

Isi: jenis kelamin, usia, rawat diri
Penting untuk menentukan/memperkirakan prognosis pasien
Contoh: tampak seorang laki-laki sesuai usia, dengan rawat diri cukup.

Kesadaran
Compos mentis (kesadaran penuh): kemampuan untuk menyadari informasi dan menggunakannya secara efektif dalam mempengaruhi hubungan dirinya dengan lingkungan sekitarnya.
Somnolen: terkantuk-kantuk
Stupor: acuh tak acuh terhadap sekelilingnya dan tak ada reaksi terhadap stimuli.
Koma: ketidaksadaran berat, pasien sama sekali tidak memberikan respon terhadap stimuli.
Koma vigil: keadaan koma tetapi mata tetap terbuka.
Kesadaran berkabut: kesadaran menurun yang disertai dengan gangguan persepsi dan sikap
Delirium: kesadaran menurun disertai bingung, gelisah, takut, dan halusinasi.

Zat-Zat Kimia dan Nutrisi yang Mempengaruhi Perkembangan Bayi dalam Kandungan

Cacat struktural kongenital yang besar terjadi pada 2-3 % bayi yang lahir hidup, dan 2-3 % lainnya dikenali pada anak umur 5 tahun sehingga totalnya 4-6 %. Pada 40-60 % dari semua cacat lahir, penyebabnya tidak diketahui. Faktor genetik seperti kelainan kromosom dan gen-gen mutan sebesar 15 %, faktor lingkungan sekitar 10 %, multifaktorial 20-25 % dan kehamilan kembar menyebabkan 0,5-1 %.

Hingga awal 1940-an, diduga cacat congenital terutama karena faktor keturunan. Setelah ditemukan bahwa penyakit campak Jerman yang diderita ibu hamil menyebabkan kelainan pada mudigah, kelainan congenital ternyata dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan.