Prinsip Evaluasi dan Diagnosis Efusi Pleura

Efusi pleura terjadi ketika terdapat akumulasi cairan pleura secara berlebihan akibat pembentukan cairan pleura melebihi penyerapannya baik karena pembentukan yang terjadi secara berlebihan maupun karena adanya gangguan pembuangan cairan pleura. Cairan pleura masuk ke rongga pleura dari kapiler pada pleura parietal dan dibuang melalui saluran limfa di pleura parietal. Selain itu, cairan pleura juga dapat […]

Volume dan Kapasitas Paru

Volume dan Kapasitas Paru

Spirometri adalah salah satu metode sederhana yang dapat digunakan untuk mempelajari ventilasi paru, yaitu dengan mencatat volume udara yang masuk dan keluar paru. Spirometer terdiri dari sebuah drum yang dibalikkan di atas bak air dan diimbangi oleh suatu beban. Di dalam drum terdapat gas untuk bernapas, biasanya udara atau oksigen. Terdapat sebuah pipa yang menghubungkan mulut dengan ruang gas. Bila seseorang bernapas melalui pipa tersebut, drum akan naik turun dan terjadi perekaman yang sesuai pada gulungan kertas yang berputar.

Spirometri1

Gambar 1. Spirometer1

Gambar 2.

Tuberkulosis: Diagnosis dan Penatalaksanaan

Tuberkulosis: Diagnosis dan Penatalaksanaan

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar di dunia. Prevalensi kasus TB ini seperti yang telah dicatat oleh WHO pada tahun 2009 mencapai 14 juta, dengan insidensi mencapai 9,4 juta orang. Saat ini yang menjadi masalah besar adalah pasien dengan TB dapat mendapat koinfeksi dengan HIV dan telah banyak berkembang TB menjadi resisten terhadap pengobatan yang diberikan yang disebut dengan TB multidrug-resistant (TB-MDR).1

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis complex.

Terapi Oksigen

Oksigen

Adalah suatu molekul berbentuk gas dengan rumus kimia 02. Oksigen diperlukan oleh sel hidup sebagai bahan bakar untuk mendapatkan energi. Oksigen dalam kandungan yang berbeda-beda dapat ditemukan di dalam air, udara dan tanah. Kandungan oksigen di dalam udara bervariasi, tergantung tempat karena pada tekanan yang lebih rendah konsentrasi suatu zat akan menjadi lebih kecil. Pada daerah setinggi permukaan laut konsentrasi oksigen sekitar 21 %, semakin tinggi suatu tempat konsentrasi oksigen akan berkurang. Manusia mendapatkan oksigen dari proses bernapas yang disebut respirasi, secara garis besar proses bernapas dibagi menjadi 2 yaitu inhalasi (menarik napas) dan ekspirasi (membuang napas).

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) merupakan suatu penyakit obstruksi napas yang terjadi secara kronis dan progresif. Suatu obstruksi saluran napas dapat ditandai dengan adanya penurunan rasio dari volume ekspirasi paksa 1 detik (VEP1) dibandingkan dengan kapasitas vital paksa (KVP). Obstruksi saluran napas ditandai dengan nilai VEP1/KVP yang <70%. Juga, dipertimbangkan nilai VEP1 yang <80% nilai prediksi (dibandingkan dengan suatu standar kebanyakan orang, yang mana nilai VEP1 ini tergantung pada usia, jenis kelamin, dan tinggi badan).

Selain ditandai dengan penurunan fungsi paru yang bersifat obstruktif, penderita PPOK juga seringkali memiliki gejala batuk kronik.

Pneumonia Komunitas

Pada tahun 2001, di Indonesia penyakit infeksi saluran napas bawah menempati urutan kedua penyebab kematian. Sementara itu, pneumonia sebagai salah satu penyakit infeksi tersebut menjadi penyebab kematian ke-6 di Indonesia. Pneumonia itu sendiri didefinisikan sebagai suatu peradangan oaru yang disebabkan oleh mikroorganisme kecuali M.tuberculosis. Mikroorganisme tersebut termasuk virus, jamur dan parasit meskipun jamur dapat diklasifikasikan tersendiri sebagai kasus mikosis paru. Sementara jika peradangan tidak disebabkan oleh mikroorganisme, kondisi tersebut disebut sebagai pneumonitis.

Pneumonia

“Paru-paru merupakan organ yang rentan dengan infeksi mengingat saluran nafas serta epitel paru terus-menerus terpajan udara yang mungkin saja tercemar.”
Meskipun begitu, terdapat bermacam mekanisme pertahanan baik imun maupun nonimun yang berada dari nasofaring hingga rongga udara di alveolus untuk menghadapi serangan infeksi.

Defek pada imunitas bawaan serta imunodefisiensi humoral biasanya menyebabkan peningkatan insiden infeksi oleh bakteri piogenik. Selain itu, defek imunitas seluler menyebabkan peningkatan infeksi oleh mikroba intrasel, seperti mikobakteri dan virus herpes serta mikroorganisme yang virulensinya rendah, seperti Pneumocytis carinii.

Penyebab Sesak Nafas

Sesak napas merupakan suatu sensasi kesulitan bernapas atau ketidaknyamanan bernapas. Sesak napas adalah persepsi subjektif dari seorang pasien, dan biasanya berbeda pada setiap orang.

Beberapa penyebab sesak yaitu:1

Penyakit PPOK (COPD)

Penyakit ini terdiri atas emfisema dan bronkitis kronik, dan biasanya diderita oleh pasien dengan riwayat merokok sejak lama dan memiliki dispnea sejak beberapa tahun terakhir. Abnormalitas paru muncul sebelum terjadinya dispnea. Penyakit ini dapat disertai batuk dan sputumnya dapat menjadi purulen selama masa eksaserbasi.

Asma

Pasien dengan penyakit ini biasanya memiliki riwayat keluarga yang juga memiliki asma.

Patogenesis Tuberkulosis

Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyebar dari satu orang ke orang lain melalui udara. Selain mempengaruhi paru (80%), TB juga dapat mempengaruhi organ lain seperti otak, ginjal atau spinal (tuberkulosis ekstrapulmonar: 20%). 1,2Dua pertiga dari populasi dunia mengalami infeksi TB. Akan tetapi, secara umum, hanya 5-10% orang yang terinfeksi akan mengalami penyakit TB aktif. Setengah dari orang tersebut dapat mengalami TB aktif pada dua tahun petama sejak infeksi. Jika imunitas rendah, resikonya akan meningkat.

Patofisiologi Sesak Nafas

Patofisiologi

Kemoreseptor1

Perubahan pH, pCO2, dan pO2 darah arteri dapat dideteksi oleh kemoreseptor sentral dan perifer. Stimulasi reseptor ini mengakibatkan peningkatan aktivitas motorik respirasi. Aktivitas motorik respirasi ini dapat menyebabkan hiperkapnia dan hipoksia, sehingga memicu terjadinya dispnea. Menurut studi, terdapat pula peran serta kemoreseptor karotid yang langsung memberikan impuls ke korteks serebri, meskipun hal ini belum dibuktikan secara luas.

Hiperkapnia akut yang terjadi pada seseorang sesungguhnya lebih dikaitkan terhadap ketidaknormalan keluaran saraf motorik dibanding aktivitas otot respiratorik. Hal ini disebabkan gejala umum hiperapnia akut berupa urgensi untuk bernapas yang sangat menonjol.