Sistemik Lupus Eritematosus: Faktor Risiko dan Patogenesis

Apa itu systemic lupus erythematosus? Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang dikenal sebagai lupus merupakan penyakit autoimun yang mana kerusakan organ serta selnya dimediasi oleh autoantibodi serta kompleks imun. Autoantibodi tersebut pada sebagian besar penderitanya sudah ada beberapa tahun sebelum mulai timbul gejala klinis. Semua orang dari berbagai golongan usia, etnis maupun gender dapat berisiko mengalami […]

Sistemik Lupus Eritematosus: Faktor Risiko dan Patogenesis

Apa itu systemic lupus erythematosus?

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang dikenal sebagai lupus merupakan penyakit autoimun yang mana kerusakan organ serta selnya dimediasi oleh autoantibodi serta kompleks imun. Autoantibodi tersebut pada sebagian besar penderitanya sudah ada beberapa tahun sebelum mulai timbul gejala klinis. Semua orang dari berbagai golongan usia, etnis maupun gender dapat berisiko mengalami SLE. Namun, sekitar 90% penderitanya adalah wanita dalam usia produktif.

Bagaimana patogenesis terjadinya systemic lupus erythematosus?

SLE merupakan penyakit yang bersifat multifaktorial. Terdapat interaksi antara gen dan faktor lingkungan yang kemudian menghasilkan respon imun yang abnormal.

Sindrom Steven Johnson

Sindrom steven johnson merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir di orifisium dan mata (trias kelainan). Keadaan umum penderita dapat bervariasi dari ringan sampai berat (bahkan dapat soporous hingga koma). Pada kulit, dapat muncul eritema, vesikel/bula maupun purpura.

Sindrom steven johnson saat ini kejadiannya relatif meningkat. Salah satu penyebab dari sindrom ini adalah alergi obat (50%) sementara masa sekarang obat-obatan semakin mudah diperoleh secara bebas. Obat-obatan yang paling sering diduga sebagai pencetus alergi adalah analgetik/antipiretik (45%), karbamazepin (20%), dan jamu (13,3%). Sebagian besar jamu dibubuhi oleh obat.

Pioderma: Impetigo, Hidraadenitis, Folikulitis, Furunkel, Karbunkel, Abses Multipel Kelenjar Keringat

Pioderma

Pioderma merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus atau keduanya. Spesies bakteri penyebab pioderma tersering adalah S.aureus dan Streptococcus Beta hemolyticus. Sementara itu, S.epidermidis sebagai flora normal juga bisa menyebabkan infeksi, meskipun jarang. 1

Staphylococcus dan Streptococcus merupakan penyebab infeksi kulit tersering. Namun, infeksi kulit itu sendiri sebenarnya dapat juga disebabkan oleh kuman fram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Proteus mirabilis, E.Coli, dan Klebsiella.

Pioderma dapat berupa impetigo, folikulitis, furunkel/karbunkel, ektima, erisipelas, selulitis, flegmon, ulkus piogenik, abses multipel kelenjar keringat, maupun staphylococcal scladed skin syndrome.

Penyakit Infeksi pada Kulit dengan Gejala Bercak Putih

A. Pitiriasis Vesikolor

Penyakit ini disebabkan oleh Malassezia furfur/ Pityrosporum orbiculare/ P. ovale. Pitiriasis vesikolor merupakan penyakit infeksi jamur superfisial kronis pada kulit yang ditandai dengan makula hipopigmentasi dan skuama halus putih atau coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka, dan kulit kepala yang berambut. Keluhan subyektif dari penderita biasanya tidak ada.

Penatalaksanaan Herpes Zooster, Varicella, dan Variola

Penggolongan Antivirus

Penghambat absorpsi/penetrasi virus. Efek sampingnya adalah sakit kepala, pusing dan tidak dapat tidur. Contoh, Amantadin (Symmetrel).
Penghambat sintesis intrasel. Berbagai efek samping obat atau cara pemberian bervariasi. Obat analog purin dan pirimidin yang digunakan secara sistemik dapat mengganggu jaringan muda yang berkembang seperti sumsum tulang, saluran cerna dan gonad.
Penghambat sintesis protein, yaitu metisazon untuk profilaksis cacar. 1

A. HERPES ZOOSTER2

Herpes zooster merupakan penyakit akibat infeksi virus varicella zooster yang menyerang kulit dan mukosa. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer.

Pemeriksaan

Pada pemeriksaan percobaan Tzanck dapat ditemukan sel datia berinti banyak.

Pemeriksaan untuk Penyakit Alergi

Penyakit alergi sering dijumpai di masyarakat dengan tempat predileksi tersering saluran napas, kulit, dan saluran pencernaan.  Diagnosis cepat dan terarah dibutuhkan agar komplikasi tidak terjadi.1 Hal yang perlu dilakukan pada pasien dengan kecurigaan alergi adalah memastikan apakah pasien tersebut benar menderita alergi dengan melakukan:
1.Anamnesis

· kapan gejala timbul dan apakah munculnya mendadak atau bertahap.
· karakter, lama, frekuensi, dan beratnya gejala, seperti urtikaria akut lebih mungkin disebabkan oleh alergen daripada urtikaria kronik.
· waktu timbulnya gejala seperti pada pagi, siang, atau malam hari.
· pekerjaan dan hobi.

Apa Penyebab Keriput dan Bagaimana Mengatasinya?

Kronologis Penuaan dan Keriput1

Penuaan kulit merupakan fenomena kompleks yang merefleksikan proses intrinsik natural dan ekstrinsik. Penuaan intrinsik merupakan fungsi hereditas individual dan hasil dari berjalannya waktu. Proses ini tidak bias dihindari.

Faktor eksogen seperti merokok, nutrisi buruk, dan eksposur sinar matahari merupakan penuaan ekstrinsik. Proses ini mestinya dapat dihindari dan biasanya berkaitan erat dengan penuaan dini. Faktanya, 80% penuaan kulit dipercaya disebabkan oleh eksposur sinar matahari. Eksposure radiasi UV, yang berdampak rusaknya DNA dan mempercepat pemendekan telomere, bisa dikatakan mempengaruhi penuaan intrinsik.

Dermatitis Kontak Iritan

Dermatitis merupakan peradangan kulit sebagai respon pengaruh faktor eksogen dan endogen, menimbulkan gejala klinis berupa efloresensi polimorfik dan keluhan gatal. Dematitis cenderung residif dan menjadi kronis. Biasanya, dermatitis disebut juga sebagai eksem.Pencetus dematitis dapat berupa bahan kimia (seperti detergen, asam, basa, oli, semen), fisik (sinar, suhu), mikroorganisme (bakteri dan jamur), dapat pula dari dalam atau endogen seperti dematitis atopik.

Cegah Dermatitis Atopik dengan Suplementasi Probiotik

Dermatitis atopik merupakan peradangan kulit yang bersifat kronis. Pasien seringkali datang berobat berulang karena sifatnya yang residif (atau kambuhan). Kondisi ini memang tidak berbahaya tetapi menimbulkan gangguan pada kehidupan sehari-hari dan penampilan. Penderita dermatitis atopik dapat mengalami kult kering, gatal-gatal, serta muncul lesi kulit berupa papul, likenifikasi, eritema, erosi, eskoriasi, eksudasi dan krusta. Selain itu, tentunya pengobatan dermatitis atopik tentunya menimbulkan beban biaya (baik pasien atau penyelenggara jaminan kesehatan). Dermatitis atopik umumnya terjadi pada masa bayi dan anak.