Sistemik Lupus Eritematosus: Faktor Risiko dan Patogenesis

Apa itu systemic lupus erythematosus? Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang dikenal sebagai lupus merupakan penyakit autoimun yang mana kerusakan organ serta selnya dimediasi oleh autoantibodi serta kompleks imun. Autoantibodi tersebut pada sebagian besar penderitanya sudah ada beberapa tahun sebelum mulai timbul gejala klinis. Semua orang dari berbagai golongan usia, etnis maupun gender dapat berisiko mengalami […]

Klasifikasi Nefritis Lupus (International Society of Nephrology and Renal Pathology Society)

Pada biopsi ginjal, pola dan beratnya jejas penting dalam menentukan diagnosis serta terapi yang paling baik. Saat ini, kriteria nefritis lupus telah menggunakan klasifikasi dari International Society of Nephrology (ISN) dan Renal Pathology Society (RPS). Sistem tersebut berfokus pada penyakit glomerulus meskipun adanya penyakit pada interstitial tubulus dan vaskular juga penting dalam mempengaruhi outcome klinis.

Sistemik Lupus Eritematosus: Dampaknya Bagi Berbagai Organ

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang dikenal sebagai lupus merupakan penyakit autoimun yang mana kerusakan organ serta selnya dimediasi oleh autoantibodi serta kompleks imun. Kondisi autoimun tersebut bersifat sistemik sehingga dapat menimbulkan manifestasi pada berbagai sistem organ. Manifestasi SLE pada Sistem Muskuloskeletal Sebagian besar pasien SLE mengalami poliartritis intermiten, yang bervariasi dari ringan hingga mengganggu aktivitas. Pada […]

Pemeriksaan Autoantibodi pada Sistemik Lupus Eritematosus

Pemeriksaan penunjang pada kasus sistemik lupus eritematosus (SLE) diperlukan baik untuk menegakan diagnosis, mengidentifikasi adanya peningkatan risiko komplikasi akibat SLE, evaluasi pengobatan dan efek samping, identifikasi kejadian flare atau kekambuhan maupun mengetahui adanya kerusakan atau keterlibatan organ pada SLE.

Tes autoantibodi merupakan pemeriksaan utama yang diperlukan dalam penanganan kasus SLE. Pemeriksaan antinuclear antibody atau ANA menjadi pilihan pertama untuk melakukan skrinning diagnosis SLE karena ANA positif terjadi pada >95% pasien SLE. ANA positif sebagian besar dapat ditemukan sejak onset gejala. Oleh karena itu, pemeriksaan ANA sangat penting untuk menegakan diagnosis SLE sedini mungkin.

Indonesia Infectious Disease Update 2017

Infectious Disease Update 2017 ini dikeluarkan oleh Perhimpunan Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi Indonesia (PETRI) Cabang semarang dalam seminar “Semarang Progress in Emerging and Re-Emerging Infectious Disease” ke-4 pada 22-23 April 2017.

Pneumonia

“Paru-paru merupakan organ yang rentan dengan infeksi mengingat saluran nafas serta epitel paru terus-menerus terpajan udara yang mungkin saja tercemar.”
Meskipun begitu, terdapat bermacam mekanisme pertahanan baik imun maupun nonimun yang berada dari nasofaring hingga rongga udara di alveolus untuk menghadapi serangan infeksi.

Defek pada imunitas bawaan serta imunodefisiensi humoral biasanya menyebabkan peningkatan insiden infeksi oleh bakteri piogenik. Selain itu, defek imunitas seluler menyebabkan peningkatan infeksi oleh mikroba intrasel, seperti mikobakteri dan virus herpes serta mikroorganisme yang virulensinya rendah, seperti Pneumocytis carinii.

Pemilihan Terapi Anti Retroviral (ARV) untuk HIV/AIDS

AIDS adalah infeksi yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyebabkan suatu spektrum penyakit yang menyerang sel-sel kekebalan tubuh yang meliputi infeksi primer, dengan atau tanpa sindrom akut, stadium asimtomatik, hingga stadium lanjut.

Selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan lain yang penting untuk menunjang diagnosis maupun evaluasi terapi antara lain adalah

⦁ Pemeriksaan penyaring untuk diagnosis : enzyme immunoassay (EIA) atau rapid tests (aglutinasi, immunoblot) dengan metode yang berbeda.
⦁ Pemeriksaan konfirmasi : western blot (WB)
⦁ Pemeriksaan darah perifer rutin dengan hitung jenis (terutama
⦁ Hitung CD4 absolut
⦁ Pemeriksaan viral load HIV dengan PCR

Apa saja terapi yang

Malaria

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang ditransmisikan oleh nyamuk Anopheles yang terinfeksi. 1 Istilah malaria diambil dari bahasa Italia, yaitu mal (buruk) dan area (udara) atau udara buruk karena dahulu terdapat banyak rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk. 2Padahal sebenarnya ada empat spesies Plasmodium yang menyebabkan malaria pada manusia yaitu P.falcifarum, P.vivax, P.ovale, dan P.malariae. Plasmodium Falciparum penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan malaria yang berat. Plasmodium vivax penyebab malaria tertina. Plasmodium  malaria penyebab malaria quartana. Plasmodium ovale  jenis ini  jarang sekali dijumpai di  Indonesia, karena umumnya banyak kasusnya terjadi di Afrika dan Pasifik Barat.

Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme spirochaeta, genus leptospira. Secara sederhana, genus leptospira terdiri atas dua spesies yaitu Leptospira interrogans yang patogen dan Leptospira biflexa yang non-patogen atau saprofit. Namun, dalam klinis dan epidemiologi, L.interrogans dibagi menjadi beberapa serogrup berdasarkan perbedaan serologis. Berdasarkan beberapa penelitian, L.icterohaemorrhagica, L.canicola, dan L.pomona merupakan serovar  L.interrogans tersering yang menginfeksi manusia. Leptospirosis tersebar di seluruh dunia ,kecuali benua Antartika, dengan kejadian terbanyak di daerah tropis. Daerah tropis mendukung pertumbuhan leptospira dengan memberikan lingkungan optimal berupa suhu hangat dan lembab, serta pH tanah dan air yang netral.

Infeksi Virus dan Bakteri pada Mata

Infeksi pada mata dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, ataupun parasit. Infeksi tersebut dapat mengenai seluruh bagian mata, mulai dari kelopak mata hingga lensa. Infeksi pada mata dapat menyebabkan mata merah dengan penglihatan yang menurun maupun tidak. Pada penglihatan yang menurun, infeksi terjadi pada media refraksi mata, seperti pada kornea dan lensa. Sedangkan, pada penglihatan yang normal, infeksi terjadi pada struktur sekitar mata.1
Konjungtivitis
Konjungtivitis merupakan inflamasi pada konjungtiva yang menyebabkan adanya hiperemis mata dan keluarnya sekret purulen. Konjungtivitis ini terjadi akibat lemahnya sistem pertahanan pada konjungtiva.